

Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan berat hingga membuat pergerakannya tertinggal jauh dibandingkan bursa negara berkembang lainnya. Berdasarkan data per April 2026, IHSG mencatatkan pelemahan sebesar 29,1 persen secara year-to-date (YTD).
Padahal, di saat yang sama, MSCI Emerging Market justru menguat 22,5 persen, jauh melampaui performa MSCI World yang tumbuh 9,0 persen. Kondisi ini mencerminkan adanya tantangan domestik yang cukup kuat di pasar modal Indonesia.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong, menilai pasar saham Indonesia saat ini sedang bergerak berlawanan arah dengan tren global. Menurutnya, krisis kepercayaan investor menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan pasar.
“Isu MSCI menjadi krusial karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk secara agresif,” ujar Shim dalam acara Media Connect Samuel Sekuritas, Kamis (4/6/2026).
Shim menjelaskan, MSCI masih menyoroti aspek transparansi struktur kepemilikan saham dan keandalan data free float di Indonesia. Hal ini memengaruhi aliran dana pasif global ke pasar domestik. Dalam tinjauan Mei 2026, MSCI mempertahankan pembatasan ketat, seperti tidak adanya penambahan bobot saham maupun kenaikan status saham dari Small Cap ke Standard Index.
Sejumlah saham besar, seperti PT Amman Mineral International (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), bahkan harus mengalami penghapusan dari indeks MSCI setelah adanya revisi data free float.
Meski demikian, secara fundamental, prospek laba emiten Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh. Weighted EPS LQ45 diperkirakan naik dari 61,7 pada 2025 menjadi 66,7 sepanjang 2026, dan diprediksi mencapai 76,0 pada 2027.
Shim menekankan, untuk mendorong re-rating pasar, Indonesia membutuhkan tiga prasyarat utama, yakni peningkatan likuiditas, pertumbuhan laba korporasi, dan dukungan kebijakan yang kondusif.
Selain isu MSCI, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga menjadi perhatian serius. Saat ini, Rupiah berada pada kisaran Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar AS, level tertinggi sejak Krisis Finansial Asia. Kondisi ini membuat investor semakin selektif dalam menempatkan modalnya pada aset berisiko di pasar domestik.