
Jakarta – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti penurunan kualitas lingkungan hidup yang kian memprihatinkan di tengah perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Organisasi tersebut menilai krisis iklim yang terjadi saat ini tidak lepas dari pola pembangunan yang masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata.
WALHI memperingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029 berpotensi menekan kelestarian lingkungan serta ruang hidup masyarakat. Menurut Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI, Patria Rizky Ananda, target tersebut dapat memicu akselerasi investasi dan ekspansi usaha yang mengabaikan keselamatan warga, khususnya petani, nelayan, dan masyarakat adat.
Patria menegaskan, penyelesaian krisis lingkungan tidak cukup hanya dengan pelabelan hijau, termasuk pada proyek hilirisasi nikel untuk transisi energi. Menurutnya, arah pembangunan harus diubah dengan menempatkan keselamatan lingkungan dan rakyat sebagai prioritas utama.
Tekanan industri ekstraktif tampak nyata dari perubahan bentang alam, seperti di Bukit Barisan, Sumatra. Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Riau, Ahlul Fadli, mengungkapkan bahwa hutan alam di Riau telah menyusut drastis dari 5 juta hektare menjadi 1,3 juta hektare dalam tiga dekade terakhir.
Selain deforestasi, masyarakat pesisir kini menghadapi ancaman banjir rob dan cuaca ekstrem yang mengganggu mata pencaharian nelayan serta petani. Data WALHI menunjukkan bahwa sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia terancam tenggelam pada tahun 2050, yang berdampak langsung pada 42 juta penduduk pesisir.
Krisis iklim juga mengancam ketahanan pangan nasional. Produksi beras diprediksi turun 6 persen dan jagung sebesar 14 persen. Selain itu, lebih dari 34 persen populasi Indonesia diperkirakan mengalami kelangkaan air, yang memicu risiko kesehatan seperti malnutrisi, diare, hingga malaria.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menekankan pentingnya taubat ekologis dalam merespons kondisi ini. Ia mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap alam dengan aksi nyata, salah satunya melalui pemilahan sampah dari sumber.
Jumhur menyatakan bahwa masa depan lingkungan ditentukan oleh tindakan yang dilakukan saat ini. Sementara bagi WALHI, peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi refleksi keras bahwa krisis yang terjadi merupakan warisan yang sedang dibentuk untuk generasi mendatang.