Dino Patti Djalal Sarankan Prabowo Gunakan Video Call Saat Bertugas

Jakarta – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Dino menyarankan agar pemerintah lebih mengoptimalkan teknologi komunikasi guna menekan biaya anggaran negara yang dinilai membengkak akibat kunjungan kenegaraan.

Dino mengungkapkan, berdasarkan catatannya, Presiden Prabowo menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling sering melakukan kunjungan luar negeri sejak menjabat. Menurutnya, rasio waktu perjalanan tersebut mencapai satu dari setiap enam hari masa jabatan.

“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri. Tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” ujar Dino melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Sabtu (30/5).

Dino menyoroti tingginya biaya logistik dalam setiap perjalanan, mulai dari tim pendahulu, transportasi pesawat, hotel, hingga pengamanan dan uang harian delegasi. Ia menyebut satu kali kunjungan bisa menelan biaya hingga puluhan bahkan ratusan miliar rupiah.

Guna efisiensi anggaran, Dino mengajukan lima usulan strategis. Pertama, pemerintah disarankan lebih sering menggunakan sambungan video atau telepon untuk berkomunikasi dengan pemimpin dunia. Ia mencontohkan Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, yang tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat melalui 17 kali percakapan telepon tanpa harus melakukan pertemuan fisik.

Kedua, Dino menyarankan penggunaan formula 1 plus 8 saat menghadiri forum internasional, yakni satu kunjungan harus dimanfaatkan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan delapan kepala negara lainnya sekaligus.

Ketiga, ia menekankan pentingnya perencanaan kunjungan internasional yang lebih profesional serta transparan kepada publik. Keempat, Presiden Prabowo diimbau lebih banyak menerima tamu negara di Indonesia, serupa dengan pola diplomasi yang diterapkan Presiden Cina, Xi Jinping.

Terakhir, Dino menyarankan agar misi diplomatik taktis lebih banyak didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono. Dengan langkah-langkah ini, ia berharap negara dapat menghemat pengeluaran signifikan sekaligus tetap menjaga stabilitas hubungan luar negeri.

Rekomendasi